Memutuskan untuk mengikuti
kegiatan kampus selama liburan memang lumayan berat, apalagi jika kegiatan
kampus yang dimaksud adalah sebuah pengabdian terhadap masyarakat yang tinggal
di daerah terpencil. Pasti mahasiswa kupu – kupu a.k.a kuliah pulang – kuliah pulang
akan berpikir seribu kali untuk mengikutinya. Syukurlah, aku sama sekali tidak
termasuk kategori itu.
Liburan semester 4 kuhabiskan bersama
teman – teman untuk mengikuti kepanitiaan kegiatan Bakti Abdi Mahasiswa (BAM)
yang diadakan oleh BEM-FBS Unesa. Tidak hanya melulu mengurusi kepanitiaan,
tetapi aku dan panitia lainnya juga terjun mengabdi pada masyarakat.
Jum’at, 15 Juli 2016 kami
berangkat menuju Desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Sengaja
tidak mengabdi di daerah terluar, terjauh, maupun terpencil dan sulit terjamah
dari kampus karena kenyataannya kami berangkat hanya berbekal tekad untuk
mengabdi.
Desa Sumberaji berada di
perbatasan Jombang dan Lamongan, serta menjadi jalur alternatif penghubung
antar kabupaten di sekitar Jombang dan Lamongan.Dari 9 dusun yang ada, kami
hanya memakai 3 dusun untuk kegiatan ini, yakni Dusun Bendo (Pos 1), Sapon (Pos
2), dan Slaji (Pos 3). Sayangnya, Dusun Ngapus dihapus dari daftar karena
letaknya yang terlalu jauh dari Balai Desa. Padahal, aku ingin menginap di dusun itu agar
pernah merasakan bagaimana tinggal di tempat yang baru setahun mendapatkan
aliran listrik. Sebagai gantinya, aku menginap di Dusun Bendo, dusun yang
letaknya paling dekat dengan Balai Desa.
Seluruh anggota kepanitiaan BAM disebar di setiap dusun
kecuali panitia pengurus harian (BPH), sie acara, konsumsi, dan ketua korlap
yang harus tinggal di mess Babinsa (Pos Inti). Aku yang hanya menjadi anggota
sie perlengkapan harus tinggal di Dusun Bendo (Pos 1) bersama beberapa panitia
dan peserta kelompok 1.
Awalnya, 9 hari terasa lama untuk dilalui. Kami tinggal jauh
dari keramaian kota, jauh dari supermarket, sinyal kembang kempis, dan akhirnya
sulit untuk menelpon keluarga dirumah. Keluhan itu segera pudar ketika teringat
tujuan mengikuti kegiatan ini. Kami ingin mengabdi dengan berbekal kemampuan
dan tekad yang kuat.
Hangatnya suasana masyarakat desa membuat kami lama –
kelamaan betah tinggal disini. Orang – orangnya murah senyum, dan anak – anak kecilpun
tidak segan untuk berkunjung ke rumah salah satu warga yang kami tempati. Hari pertama
dan kedua kami disibukkan untuk melatih anak – anak dusun Bendo yang mengikuti
Olimpiade Siswa, salah satu rangkaian acara dari kegiatan BAM. Mulai dari lomba
menyanyi, mewarnai, menulis cerpen, membaca puisi, hingga mengumandangkan
adzan. Antusiasme anak – anak dusun ini menjadi semangat kami untuk semakin
total dalam mengabdi.
Meskipun Olimpiade Siswa telah berakhir, namun anak – anak kecil
yang kini menjadi adik – adik kesayangan para anggota kelompok 1 tetap
mengunjungi kami setiap hari, terutama pada sore dan malam hari. Sore hari kami
semua mengaji bersama atau disebut Bina TPQ, sedangkan pada malam hari kami
membuka les bahasa secara cuma –cuma.
Selain Olimpiade Siswa, ada pula acara makro lainnya yaitu Pelatihan
Nutrisi Pangan, Pelatihan Batik Jumput, Pengajian Akbar, serta Pentas Seni yang
semuanya ditujukan untuk masyarakat Desa Sumberaji. Pada serangkaian acara itu
aku yang hanya bertugas sebagai anggota sie perlengkapan tidak terlalu berperan
banyak. Biarkan para lelaki yang mengangkat dan menata perlengkapan setiap
acara, aku cukup membersihkan tempat acara dan kembali duduk manis menjaga perlengkapan.
Bukan serangkaian acara makro yang menjadi kenangan indah
kegiatan BAM ini, melainkan kegiatan yang setiap hari aku dan teman – teman pos
1 lakukan. Berbekal uang 120 ribu untuk makan bersama selama 9 hari, membuat
kami memilih menu makanan yang paling sederhana. Tahu dan tempe menjadi lauk
paling mewah. Selebihnya, kami hanya makan sayuran dan kornet yang dibawa oleh
salah satu anggota kami.
Hamparan sawah dan ladang yang luas, serta mata pencaharian
masyarakat yang sebagian besar menjadi petani membuat kami setiap pagi selalu
bersemangat untuk main ke sawah dan membantu masyarakat. Ada yang membantu
menebar benih jagung dan memberi pupuk, panen tembakau, serta panen padi yang berhasil
membuat kedua lenganku merah dan gatal – gatal. Meski melelahkan, kegiatan di
sawah ini tetap menyenangkan karena sebagian besar dari kami belum pernah
mendapatkan pengalaman ini.
Tidak jarang pemilik sawah yang kami bantu akan membawakan kami
sarapan untuk dimakan bersama di sawah. Nasi jagung, tahu, dan kerupuk menjadi
sangat lezat saat itu. Selama berada di dusun ini, kami sering diberi banyak
makanan dan sayuran oleh warga.
Malam terakhir di Desa Sumberaji akhirnya tiba. Pentas
Seni, acara makro terakhir telah berakhir beberapa jam yang lalu. Masih jelas
di pikiranku pertama kali aku dan teman – teman kelompok 1 berkenalan dengan
warga Dusun Bendo, berkenalan dengan adik – adik yang kelak akan menjadi
kebanggaan Desa Sumberaji. Rasanya masih ingin membantu warga di sawah, menumpang
mandi di rumah tetangga, dan berkunjung ke rumah warga kemudian mendapat
makanan yang pasti menjadi rebutan di rumah kelompok 1.
Aku sengaja masih tinggal di Balai Desa seusai Pentas Seni,
sengaja mengingat betapa cerianya adik – adik yang tampil di acara tadi,
sekaligus mengingat kesedihan mereka ketika tahu bahwa besok pagi kami harus
pulang ke Surabaya.
![]() |
| Keluarga Kelompok 1 BAM 2016 |
Tuhan, aku harus berterima kasih kepadaMu karena
menghadirkan kelompok 1 sebagai keluarga baru yang sangat menyayangiku meskipun
aku lebih suka menyendiri ketika mereka sedang bercanda, serta terima kasih
pula karena menempatkan keluarga kelompok 1 di tengah masyarakat Dusun Bendo
yang penuh keramahan.
Sumberaji,
22 Juli 2016 Pukul 23.00

Tidak ada komentar:
Posting Komentar