Jumat, 22 Juli 2016

Nekat Mengabdi, Sembilan Hari menjadi Kenangan Paling Berarti



                Memutuskan untuk mengikuti kegiatan kampus selama liburan memang lumayan berat, apalagi jika kegiatan kampus yang dimaksud adalah sebuah pengabdian terhadap masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Pasti mahasiswa kupu – kupu a.k.a kuliah pulang – kuliah pulang akan berpikir seribu kali untuk mengikutinya. Syukurlah, aku sama sekali tidak termasuk kategori itu.

                Liburan semester 4 kuhabiskan bersama teman – teman untuk mengikuti kepanitiaan kegiatan Bakti Abdi Mahasiswa (BAM) yang diadakan oleh BEM-FBS Unesa. Tidak hanya melulu mengurusi kepanitiaan, tetapi aku dan panitia lainnya juga terjun mengabdi pada masyarakat.
                Jum’at, 15 Juli 2016 kami berangkat menuju Desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Sengaja tidak mengabdi di daerah terluar, terjauh, maupun terpencil dan sulit terjamah dari kampus karena kenyataannya kami berangkat hanya berbekal tekad untuk mengabdi.
                Desa Sumberaji berada di perbatasan Jombang dan Lamongan, serta menjadi jalur alternatif penghubung antar kabupaten di sekitar Jombang dan Lamongan.Dari 9 dusun yang ada, kami hanya memakai 3 dusun untuk kegiatan ini, yakni Dusun Bendo (Pos 1), Sapon (Pos 2), dan Slaji (Pos 3). Sayangnya, Dusun Ngapus dihapus dari daftar karena letaknya yang terlalu jauh dari Balai Desa.  Padahal, aku ingin menginap di dusun itu agar pernah merasakan bagaimana tinggal di tempat yang baru setahun mendapatkan aliran listrik. Sebagai gantinya, aku menginap di Dusun Bendo, dusun yang letaknya paling dekat dengan Balai Desa.
Seluruh anggota kepanitiaan BAM disebar di setiap dusun kecuali panitia pengurus harian (BPH), sie acara, konsumsi, dan ketua korlap yang harus tinggal di mess Babinsa (Pos Inti). Aku yang hanya menjadi anggota sie perlengkapan harus tinggal di Dusun Bendo (Pos 1) bersama beberapa panitia dan peserta kelompok 1.
Awalnya, 9 hari terasa lama untuk dilalui. Kami tinggal jauh dari keramaian kota, jauh dari supermarket, sinyal kembang kempis, dan akhirnya sulit untuk menelpon keluarga dirumah. Keluhan itu segera pudar ketika teringat tujuan mengikuti kegiatan ini. Kami ingin mengabdi dengan berbekal kemampuan dan tekad yang kuat.
Hangatnya suasana masyarakat desa membuat kami lama – kelamaan betah tinggal disini. Orang – orangnya murah senyum, dan anak – anak kecilpun tidak segan untuk berkunjung ke rumah salah satu warga yang kami tempati. Hari pertama dan kedua kami disibukkan untuk melatih anak – anak dusun Bendo yang mengikuti Olimpiade Siswa, salah satu rangkaian acara dari kegiatan BAM. Mulai dari lomba menyanyi, mewarnai, menulis cerpen, membaca puisi, hingga mengumandangkan adzan. Antusiasme anak – anak dusun ini menjadi semangat kami untuk semakin total dalam mengabdi.
Meskipun Olimpiade Siswa telah berakhir, namun anak – anak kecil yang kini menjadi adik – adik kesayangan para anggota kelompok 1 tetap mengunjungi kami setiap hari, terutama pada sore dan malam hari. Sore hari kami semua mengaji bersama atau disebut Bina TPQ, sedangkan pada malam hari kami membuka les bahasa secara cuma –cuma.
Selain Olimpiade Siswa, ada pula acara makro lainnya yaitu Pelatihan Nutrisi Pangan, Pelatihan Batik Jumput, Pengajian Akbar, serta Pentas Seni yang semuanya ditujukan untuk masyarakat Desa Sumberaji. Pada serangkaian acara itu aku yang hanya bertugas sebagai anggota sie perlengkapan tidak terlalu berperan banyak. Biarkan para lelaki yang mengangkat dan menata perlengkapan setiap acara, aku cukup membersihkan tempat acara dan kembali duduk manis menjaga perlengkapan.
Bukan serangkaian acara makro yang menjadi kenangan indah kegiatan BAM ini, melainkan kegiatan yang setiap hari aku dan teman – teman pos 1 lakukan. Berbekal uang 120 ribu untuk makan bersama selama 9 hari, membuat kami memilih menu makanan yang paling sederhana. Tahu dan tempe menjadi lauk paling mewah. Selebihnya, kami hanya makan sayuran dan kornet yang dibawa oleh salah satu anggota kami.
Hamparan sawah dan ladang yang luas, serta mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar menjadi petani membuat kami setiap pagi selalu bersemangat untuk main ke sawah dan membantu masyarakat. Ada yang membantu menebar benih jagung dan memberi pupuk, panen tembakau, serta panen padi yang berhasil membuat kedua lenganku merah dan gatal – gatal. Meski melelahkan, kegiatan di sawah ini tetap menyenangkan karena sebagian besar dari kami belum pernah mendapatkan pengalaman ini.
Tidak jarang pemilik sawah yang kami bantu akan membawakan kami sarapan untuk dimakan bersama di sawah. Nasi jagung, tahu, dan kerupuk menjadi sangat lezat saat itu. Selama berada di dusun ini, kami sering diberi banyak makanan dan sayuran oleh warga.
Malam terakhir di Desa Sumberaji akhirnya tiba. Pentas Seni, acara makro terakhir telah berakhir beberapa jam yang lalu. Masih jelas di pikiranku pertama kali aku dan teman – teman kelompok 1 berkenalan dengan warga Dusun Bendo, berkenalan dengan adik – adik yang kelak akan menjadi kebanggaan Desa Sumberaji. Rasanya masih ingin membantu warga di sawah, menumpang mandi di rumah tetangga, dan berkunjung ke rumah warga kemudian mendapat makanan yang pasti menjadi rebutan di rumah kelompok 1.
Aku sengaja masih tinggal di Balai Desa seusai Pentas Seni, sengaja mengingat betapa cerianya adik – adik yang tampil di acara tadi, sekaligus mengingat kesedihan mereka ketika tahu bahwa besok pagi kami harus pulang ke Surabaya. 
Keluarga Kelompok 1 BAM 2016
Tuhan, aku harus berterima kasih kepadaMu karena menghadirkan kelompok 1 sebagai keluarga baru yang sangat menyayangiku meskipun aku lebih suka menyendiri ketika mereka sedang bercanda, serta terima kasih pula karena menempatkan keluarga kelompok 1 di tengah masyarakat Dusun Bendo yang penuh keramahan.

Sumberaji, 22 Juli 2016 Pukul 23.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar