Rabu, 23 September 2015

Analisis Ajaran Konfusianisme dalam Film “Confucius”




A.      Sinopsis Film Confucius


Confucius merupakan sebuah film bertema sejarah asal Tiongkok. Confucius sendiri merupakan seorang tokoh sejarah asal Tiongkok yang sangat berpengaruh hingga sekarang.
Confucius (Kong Qiu) dilahirkan pada masa dinasti yang saling berperang. Karena kecakapannya dalam ilmu pengetahuan dan strategi milite, Kong Qiu diminta oleh raja dinasti Lu untuk membantunya. Selama menjadi menteri, Kong Qiu banyak membuat gebrakan, seperti menghilangkan kebiasaan adat untuk ikut mengubur orang – orang yang dekat dengan raja ketika raja telah meninggal. Selain itu, salah satu tipuan Kong Qiu yang paling menakjubkan adalah ketika berhasil menggertak penguasa negeri Qi yang ingin menguasai negerinya. Saat itu, ia menggunakan 100 gerobak sapi yang dikesankannya adalah kereta perang untuk menakuti 500 kereta perang musuh.
Sayangnya, gebrakannya tidak disukai 3 keluarga bangsawan yang berpengaruh di negara itu. Maka, Perdana Menteri yang juga kepala salah satu keluarga pun mempengaruhi raja yang berakibat sang raja memecatnya. Kong Qiu pun kemudian mengasingkan diri sendirian. Yang mengharukan, para muridnya kemudian menyusul sang guru dan ikut dalam perjalanan mengasingkan diri. Bertahun – tahun Kong Qiu dan para muridnya mengembara dari kerajaan satu ke kerajaan lainnya sambil terus mengamalkan ilmunya.
Rombongan tersebut kelaparan dan mengalami kesulitan karena diusir dari berbagai dinasti. Kesedihan Kong Qiu memuncak ketika kehilangan murid utamanya yang berupaya menyelamatkan naskah – naskah ajaran sang guru saat keretanya tenggelam ke dalam danau es yang pecah.
Film ini diakhiri dengan kembalinya Kong Qiu dan para muridnya ke dinasti Lu atas permintaan Perdana Menteri yang mengakui kesalahannya.

B.       Analisis Ajaran Konfusianisme dalam Film Confucius
1.    Cinta Kasih (Ren)
Menurut Konfusius manusia yang bermartabat adalah manusia yang memiliki 'Ren' atau Cinta Kasih. Konsep 'Ren' merupakan pusat kualitas moral manusia intisari dari cinta terhadap sesama, perikemanusiaan, hati nurani, keadilan, dan kasih sayang.
Di dalam film ini, Kong Qiu menunjukkan cinta kasih yang begitu tinggi ketika membela seorang budak kecil yang akan dibunuh karena ia adalah budak kesayangan Perdana Menteri Ji Yiru yang telah meninggal. Kong Qiu menentang kebiasaan adat untuk ikut mengubur orang – orang yang dekat dengan raja ketika raja telah meninggal, karena upacara yang membunuh tetap merupakan sebuah pembunuhan.
“Menteri Ji, kebajikan adalah cinta bagi kita umat manusia. Upacara yang membunuh tetap saja pembunuhan.” (Kong Qiu, 17:08)

2.    Bijaksana (Zhi)
Zhi secara harafiah artinya kearifan atau kebijaksanaan, juga berarti kecerdasan atau kepandaian. Maka seseorang dapat dikatakan bijaksana kalau setiap hari memiliki kesadaran atau selalu sadar.
Dikisahkan dalam film ini bahwa Kong Qiu merupakan seorang yang cerdas dan berpendidikan, sehingga apa yang beliau katakan mengandung pengertian yang sangat dalam.
“Perkataan orang yang berpendidikan memang begitu dalam.” (Raja Lu, 19:27)

                        Kecerdasan Kong Qiu juga nampak ketika beliau mengantisipasi hal buruk yang akan menimpa raja kerajaan Lu ketika menghadiri undangan raja kerajaan Qi. Beliau meminta bantuan Jendral Gong untuk mengirim prajuritnya mengamankan raja, namun ternyata tidak ada satupun yang berangkat. Akhirnya, Kong Qiu memerintahkan untuk menjalankan rencana kedua, yaitu menggunakan 100 pasukan menggunakan gerobak sapi untuk menakut – nakuti 500 pasukan kereta perang kerajaan Qi. Saat hampir terjadi peperangan, akhirnya rencana kedua beliau berhasil.
“Guru selalu bilang, rencana kemiliteran harus inovatif dan muncul dengan kejutan”. (Murid Kong Qiu, 36:37)
Kebijaksanaan Kong Qiu masih nampak pada kata – kata yang beliau utarakan menjelang ajalnya. Beliau memahami bahwa tidak semua orang sejalan dengan apa yang beliau katakan, sehingga beliau tidak ingin memaksa agar semua orang menyayanginya.
“Jika dunia ingin mengenalku, mereka bisa mengetahuinya melalui buku ini. Jika mereka merasa tidak sepaham denganku, semuanya juga bisa melalui buku ini”. (Kong Qiu, 2:00:25)

3.    Tenggang Rasa (Zhong Shu)
Tenggang Rasa adalah perbuatan yang muncul dari hati. Menurut Kong Qiu, suatu tindakan harus dilakukan atas dasar ketulusan, bukan untuk saling menguasai.
            “Aliansi diantara kita harus diciptakan atas dasar ketulusan.” (Kong Qiu, 33:13)

Daftar Rujukan:

Megamarintini, Anita. dkk. 2012. Perkembangan filsafat Cina: Tinjauan Perkembangan Sosial Religi masyarakat Cina, (online), (http://sukmazaman.blogspot.com/2012/06/perkembangan-filsafat-cina-tinjauan.html, diakses 31 Mei 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar