Confucius merupakan
sebuah film bertema sejarah asal Tiongkok. Confucius sendiri merupakan seorang
tokoh sejarah asal Tiongkok yang sangat berpengaruh hingga sekarang.
Confucius
(Kong Qiu) dilahirkan pada masa dinasti yang saling berperang. Karena
kecakapannya dalam ilmu pengetahuan dan strategi milite, Kong Qiu diminta oleh
raja dinasti Lu untuk membantunya. Selama menjadi menteri, Kong Qiu banyak
membuat gebrakan, seperti menghilangkan kebiasaan adat untuk ikut mengubur
orang – orang yang dekat dengan raja ketika raja telah meninggal. Selain itu,
salah satu tipuan Kong Qiu yang paling menakjubkan adalah ketika berhasil
menggertak penguasa negeri Qi yang ingin menguasai negerinya. Saat itu, ia
menggunakan 100 gerobak sapi yang dikesankannya adalah kereta perang untuk
menakuti 500 kereta perang musuh.
Sayangnya, gebrakannya tidak disukai
3 keluarga bangsawan yang berpengaruh di negara itu. Maka, Perdana Menteri yang
juga kepala salah satu keluarga pun mempengaruhi raja yang berakibat sang raja
memecatnya. Kong Qiu pun kemudian mengasingkan diri sendirian. Yang
mengharukan, para muridnya kemudian menyusul sang guru dan ikut dalam
perjalanan mengasingkan diri. Bertahun – tahun Kong Qiu dan para muridnya
mengembara dari kerajaan satu ke kerajaan lainnya sambil terus mengamalkan
ilmunya.
Rombongan tersebut kelaparan dan
mengalami kesulitan karena diusir dari berbagai dinasti. Kesedihan Kong Qiu
memuncak ketika kehilangan murid utamanya yang berupaya menyelamatkan naskah –
naskah ajaran sang guru saat keretanya tenggelam ke dalam danau es yang pecah.
Film ini diakhiri dengan kembalinya
Kong Qiu dan para muridnya ke dinasti Lu atas permintaan Perdana Menteri yang
mengakui kesalahannya.
B. Analisis Ajaran Konfusianisme dalam
Film Confucius
1.
Cinta Kasih (Ren)
Menurut Konfusius manusia yang
bermartabat adalah manusia yang memiliki 'Ren' atau Cinta Kasih. Konsep 'Ren'
merupakan pusat kualitas moral manusia intisari dari cinta terhadap sesama,
perikemanusiaan, hati nurani, keadilan, dan kasih sayang.
Di dalam film ini, Kong Qiu
menunjukkan cinta kasih yang begitu tinggi ketika membela seorang budak kecil
yang akan dibunuh karena ia adalah budak kesayangan
Perdana Menteri Ji Yiru yang telah meninggal. Kong Qiu menentang kebiasaan adat
untuk ikut mengubur orang – orang yang dekat dengan raja ketika raja telah
meninggal, karena upacara yang membunuh tetap merupakan sebuah pembunuhan.
“Menteri
Ji, kebajikan adalah cinta bagi kita umat manusia. Upacara yang membunuh tetap
saja pembunuhan.” (Kong Qiu, 17:08)
2.
Bijaksana (Zhi)
Zhi secara
harafiah artinya kearifan atau kebijaksanaan, juga berarti kecerdasan atau
kepandaian. Maka
seseorang dapat dikatakan bijaksana kalau setiap hari memiliki
kesadaran atau selalu sadar.
Dikisahkan
dalam film ini bahwa Kong Qiu merupakan seorang yang cerdas dan berpendidikan,
sehingga apa yang beliau katakan mengandung pengertian yang sangat dalam.
“Perkataan
orang yang berpendidikan memang begitu dalam.” (Raja Lu, 19:27)
Kecerdasan Kong Qiu juga
nampak ketika beliau mengantisipasi hal buruk yang akan menimpa raja kerajaan
Lu ketika menghadiri undangan raja kerajaan Qi. Beliau meminta bantuan Jendral
Gong untuk mengirim prajuritnya mengamankan raja, namun ternyata tidak ada
satupun yang berangkat. Akhirnya, Kong Qiu memerintahkan untuk menjalankan
rencana kedua, yaitu menggunakan 100 pasukan menggunakan gerobak sapi untuk
menakut – nakuti 500 pasukan kereta perang kerajaan Qi. Saat hampir terjadi
peperangan, akhirnya rencana kedua beliau berhasil.
“Guru
selalu bilang, rencana kemiliteran harus inovatif dan muncul dengan kejutan”.
(Murid Kong Qiu, 36:37)
Kebijaksanaan
Kong Qiu masih nampak pada kata – kata yang beliau utarakan menjelang ajalnya.
Beliau memahami bahwa tidak semua orang sejalan dengan apa yang beliau katakan,
sehingga beliau tidak ingin memaksa agar semua orang menyayanginya.
“Jika
dunia ingin mengenalku, mereka bisa mengetahuinya melalui buku ini. Jika mereka
merasa tidak sepaham denganku, semuanya juga bisa melalui buku ini”. (Kong Qiu,
2:00:25)
3.
Tenggang Rasa (Zhong Shu)
Tenggang Rasa adalah perbuatan yang
muncul dari hati. Menurut Kong Qiu, suatu tindakan harus dilakukan atas dasar
ketulusan, bukan untuk saling menguasai.
Daftar Rujukan:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar