A. Biografi Wu
Zetian
Wu
Zetian lahir pada tahun 624 (lebih tua 4 tahun dari Kaisar Tang Gaozong).
Ayahnya adalah perwira tinggi pasukan Dinasti Sui, kemudian ikut Li Yuan
(Kaisar pertama Dinasti Tang) memberontak. Ia juga pernah menjabat sebagai
menteri pembangunan, mendapatkan anugerah sebagai Bangsawan Yinggugong. Setelah
ayahnya wafat, sebagai anak perempuan dari selir, maka ia hidup bersama ibu,
janda bermarga Yang dan mengalmi intimidasi serta perlakuan yang tidak
manusiawi dari saudaranya yang merupakan keturunan sah dari istri utama.
Pengalaman pahit yang ia alami inilah yang membuatnya bertekad kelak harus
dapat mengubah nasib sehingga tidak perlu mengulang penderitaan yang ia alami
saat itu.
Ketika
menjadi istri dari Kaisar Tang Gaozong, jasa besar Kaisar Tang Gaozong bagi
dinasti tidak bisa dipisahkan dari jasa Permaisuri Wu Zetian. Ketika Tang
Gaozong mengalami sakit parah, Permaisuri Wu Zetian selalu hadir dalam rapat
kerja dinasti mendampingi Kaisar dan para menteri di aula istana membantu
Kaaisar Tang Gaozong memberesi urusan negara. Semua urusan yang diusulkan atau
dipertanyakan oleh para menteri ditanggapi dan diputuskan oleh Permaisuri Wu
Zetian sehingga para menteri pun menyebut pasangan kaisar dan permaisuri ini
sebagai ersheng yang berarti
“Dwitunggal”.
Karena
penyakit Kaisar semakin parah, akhirnya segala kekuasaan diberikan kepada
Permaisuri Wu Zetian. Suatu hari Kaisar pernah berpikir untuk menyerahkan tahta
kepada Permaisuri, namun pikiran itu diurungkan karena para menteri menghalangi
dan menghimbau Sang Kaisar membatalkan keputusan tersebut. Pada Desember 683,
Kaisar meninggal dunia. Putra ketiga dari Permaisuri akhirnya naik tahta.
Namun
karena begitu besarnya kuasa yang dimiliki Permaisuri, akhirnya ia melengserkan
putra ketiganya dan menggantinya dengan putra keempatnya. Dengan mudahnya ia melengserkan pula putra
keempatnya dan akhirnya Permaisuri Wu Zetian sendiri yang memimpin dinasti. Padahal,
di Cina, seorang wanita yang melakukan hal tersebut adalah suatu tindakan yang
melanggar adat istiadat. Akibatnya, dimana – mana terjadi pemberontakan
terhadap Ratu.
Pada
masa awal pemerintahan, ia memberantas semua lawan politiknya, dan hanya
mempekerjakan pejabat yang jujur, setia, dan bertalenta sehingga masa
pemerintahan Ratu Wu Zetian sangat gemilang. Jumlah penduduk pun kian bertambah
karena perkembangan ekonomi yang sangat pesat di bidang agraria. Kesejahteraan
dan keamanan rakyat pun terjamin.
B.
Kaisar Wu Zetian dan Feminisme
Dengan
berkuasanya Permaisuri Wu Zetian dari Dinasti Tang dalam sejarah Cina, membuat
terangkatnya derajat wanita pada masa itu.
Menurut
dasar pemikiran feminisme liberal yang dikemukakan oleh Gadis Arivia (2003:189)
yang berbunyi, “Dengan akal, manusia mampu memahami prinsip – prinsip moralitas
dan kebebasan individu”. Permaisuri Wu Zetian yang terkenal sangat cerdik mampu
memahami keadaan rakyatnya yang sangat percaya dengan aliran Taoisme dan
Buddhisme. Dengan memanfaatkan kepercayaan itu, ia menyatakan bahwa dirinya adalah penjelmaan dari ibu Surgawi yang merupakan ibu dari Lao
Tzu, pendiri Taoisme, serta memerintahkan agar patungnya ditempatkan di tiap
– tiap kuil taois. Wu juga memanfaatkan sejilid kitab
Buddhis berjudul Sutra Awan Agung yang isisnya meramalkan bahwa Maitreya, budha
yang akan datang akan terlahir sebagai wanita dimana pada zamannya panen akan
berlimpah dan begitu pula dengan kebahagiaan tanpa batas. Untuk menjaga
eksistensinya, Kaisar Wu Zetian berusaha menjadi seorang Kaisar yang agung dan
berusaha untuk mewujudkan keadaan seperti yang diramalkan oleh kitab Budhhism.
Dengan
akalnya pula Permaisuri Wu Zetian dapat mewujudkan impiannya ketika ia sedang
terpuruk. Pengalaman buruk ketika ayahnya telah meninggal dan mendapat intimidasi
dari saudara yang merupakan anak dari istri sah ayahnya. Hal tersebut membuat
Wu Zetian menderita dan akhirnya bertekad agar kejadian tersebut tidak akan
terulang lagi.
Dengan
akalnya ia juga mampu menunjukkan kebebasan sebagai seorang individu. Ketika Wu
Zetian menjadi seorang Kaisar, ia dapat bebas memilih dan menyingkirkan pejabat
yang akan bekerja sama dengannya. Dengan pemikirannya, akhirnya ia
menyingkirkan semua pejabat yang menjadi lawan politiknya.
Daftar Rujukan:
Arivia,
Gadis. 2003. Filsafat Berperspektif
Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan
Hendri,
Yusin. 2014. Sang Naga dari Timur.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar