Rabu, 23 September 2015

Analisis Feminisme Wu Zetian Kaisar Perempuan Pertama dalam Sejarah Dinasti Cina




A.      Biografi Wu Zetian
Wu Zetian lahir pada tahun 624 (lebih tua 4 tahun dari Kaisar Tang Gaozong). Ayahnya adalah perwira tinggi pasukan Dinasti Sui, kemudian ikut Li Yuan (Kaisar pertama Dinasti Tang) memberontak. Ia juga pernah menjabat sebagai menteri pembangunan, mendapatkan anugerah sebagai Bangsawan Yinggugong. Setelah ayahnya wafat, sebagai anak perempuan dari selir, maka ia hidup bersama ibu, janda bermarga Yang dan mengalmi intimidasi serta perlakuan yang tidak manusiawi dari saudaranya yang merupakan keturunan sah dari istri utama. Pengalaman pahit yang ia alami inilah yang membuatnya bertekad kelak harus dapat mengubah nasib sehingga tidak perlu mengulang penderitaan yang ia alami saat itu.
Ketika menjadi istri dari Kaisar Tang Gaozong, jasa besar Kaisar Tang Gaozong bagi dinasti tidak bisa dipisahkan dari jasa Permaisuri Wu Zetian. Ketika Tang Gaozong mengalami sakit parah, Permaisuri Wu Zetian selalu hadir dalam rapat kerja dinasti mendampingi Kaisar dan para menteri di aula istana membantu Kaaisar Tang Gaozong memberesi urusan negara. Semua urusan yang diusulkan atau dipertanyakan oleh para menteri ditanggapi dan diputuskan oleh Permaisuri Wu Zetian sehingga para menteri pun menyebut pasangan kaisar dan permaisuri ini sebagai ersheng yang berarti “Dwitunggal”.
Karena penyakit Kaisar semakin parah, akhirnya segala kekuasaan diberikan kepada Permaisuri Wu Zetian. Suatu hari Kaisar pernah berpikir untuk menyerahkan tahta kepada Permaisuri, namun pikiran itu diurungkan karena para menteri menghalangi dan menghimbau Sang Kaisar membatalkan keputusan tersebut. Pada Desember 683, Kaisar meninggal dunia. Putra ketiga dari Permaisuri akhirnya naik tahta.
Namun karena begitu besarnya kuasa yang dimiliki Permaisuri, akhirnya ia melengserkan putra ketiganya dan menggantinya dengan putra keempatnya.  Dengan mudahnya ia melengserkan pula putra keempatnya dan akhirnya Permaisuri Wu Zetian sendiri yang memimpin dinasti. Padahal, di Cina, seorang wanita yang melakukan hal tersebut adalah suatu tindakan yang melanggar adat istiadat. Akibatnya, dimana – mana terjadi pemberontakan terhadap Ratu.
Pada masa awal pemerintahan, ia memberantas semua lawan politiknya, dan hanya mempekerjakan pejabat yang jujur, setia, dan bertalenta sehingga masa pemerintahan Ratu Wu Zetian sangat gemilang. Jumlah penduduk pun kian bertambah karena perkembangan ekonomi yang sangat pesat di bidang agraria. Kesejahteraan dan keamanan rakyat pun terjamin.

B.       Kaisar Wu Zetian dan Feminisme
Dengan berkuasanya Permaisuri Wu Zetian dari Dinasti Tang dalam sejarah Cina, membuat terangkatnya derajat wanita pada masa itu.
Menurut dasar pemikiran feminisme liberal yang dikemukakan oleh Gadis Arivia (2003:189) yang berbunyi, “Dengan akal, manusia mampu memahami prinsip – prinsip moralitas dan kebebasan individu”. Permaisuri Wu Zetian yang terkenal sangat cerdik mampu memahami keadaan rakyatnya yang sangat percaya dengan aliran Taoisme dan Buddhisme. Dengan memanfaatkan kepercayaan itu, ia menyatakan bahwa dirinya adalah penjelmaan dari ibu Surgawi yang merupakan ibu dari Lao Tzu, pendiri Taoisme, serta memerintahkan agar patungnya ditempatkan di tiap tiap kuil taois. Wu juga memanfaatkan sejilid kitab Buddhis berjudul Sutra Awan Agung yang isisnya meramalkan bahwa Maitreya, budha yang akan datang akan terlahir sebagai wanita dimana pada zamannya panen akan berlimpah dan begitu pula dengan kebahagiaan tanpa batas. Untuk menjaga eksistensinya, Kaisar Wu Zetian berusaha menjadi seorang Kaisar yang agung dan berusaha untuk mewujudkan keadaan seperti yang diramalkan oleh kitab Budhhism.
Dengan akalnya pula Permaisuri Wu Zetian dapat mewujudkan impiannya ketika ia sedang terpuruk. Pengalaman buruk ketika ayahnya telah meninggal dan mendapat intimidasi dari saudara yang merupakan anak dari istri sah ayahnya. Hal tersebut membuat Wu Zetian menderita dan akhirnya bertekad agar kejadian tersebut tidak akan terulang lagi.
Dengan akalnya ia juga mampu menunjukkan kebebasan sebagai seorang individu. Ketika Wu Zetian menjadi seorang Kaisar, ia dapat bebas memilih dan menyingkirkan pejabat yang akan bekerja sama dengannya. Dengan pemikirannya, akhirnya ia menyingkirkan semua pejabat yang menjadi lawan politiknya.
 


Daftar Rujukan:

Arivia, Gadis. 2003. Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan
Hendri, Yusin. 2014. Sang Naga dari Timur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar