Rabu, 23 September 2015

Analisis Taoisme pada Lagu ”Jiàn xīn” yang Dipopulerkan oleh Zhang Jie




A.      Makna Lagu Jiàn xīn (Hati Pedang)
Jiàn xīn merupakan satu dari beberapa lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Tiongkok, Zhāngjié pada tahun 2014. Lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang mencoba untuk tetap bertahan dari keterpurukan yang sedang ia alami. Berikut ini adalah lirik lagunya:

Zhang Jie – Hati Pedang



Jiwa berdebu yang terbaring diantara bintang-bintang, matahari dan bulan

Terbangun oleh igauan mimpi buruk ketidakberdayaan.

Mengungkap benang peristiwa takdir ini,

Tidak bisa lepas dari kesepian seumur hidup ini.

Di belakangku adalah kabut suram; di depanku adalah gunung menghadang.

Ingin melarikan diripun tidak bisa.

Terlepas dari bagaimana nasib mengatur, hati terus-menerus tidak akan berubah.

Tidak peduli berapa banyak waktu berlalu dan berapa banyak perubahan dunia.

Mendengarkan suara sedih dari guqin itu, tidak bisa melupakan apa yang harus dilupakan.

Dunia mortal menjebak masa mudaku.

Maafkan keegoisanku yang sudah jelas telah kusembunyikan dalam hatiku.

Pergi ke dalam pertempuran menghadapi luas dan agungnya langit dan bumi.

Hidup ini juga sepi. sangat menarik, seperti kobaran api menderu terbakar.

Masa lalu yang dilalui penuh penderitaan/pasang surut.

Menggunakan ujung pisau dingin dan kesendirian guqin ini, menulis peristiwa masa lalu dan saat ini.

Pedang tunggal dan ujung jari, berbicara dan tertawa.

Adakah obat penawar antara hati nurani manusia

Yang dapat meredam perebutan hak, kesalahan, balas budi dan dendam?

Pedang fenji yang telah disarungkan

Tidak akan dapat menggoyahkan hebatnya keteguhan seumur hidup ini.

B.       Analsis Taoisme berdasarkan Lirik Lagu
1.    Filsafat Taoisme yang Bersifat Naturalistik
Pemikiran kefilsafatan Taoisme yang bersifat naturalsitk tidak memusatkan perhatian pada persoalan tentang keseluruhan struktur semesta alam. Substansi pemikiran Taoisme berupa pemahaman prinsip hukum alam yang dapat diorientasikan ke dalam ajaran etikanya, misalnya tentang keseimbangan kehidupan, kejujuran, ketulusan, ketaatan, keadilan dan kesederhanaan. 
Dalam lirik “Jiwa berdebu yang terbaring diantara bintang-bintang, matahari dan bulan” pada lagu tersebut menjelaskan kesadaran tentang posisi manusia yang sangat kecil dibandingkan dengan alam semesta, sehingga kita harus memiliki sifat sederhana dalam hidup ini.

2.    Setiap manusia memiliki kodrat (pembawaan) alamiahnya sendiri
Taoisme berpandangan, bahwa setiap manusia memiliki kodrat (pembawaan) alamiahnya sendiri. Untuk itu, segala sesuatu mempunyai jalannya masing – masing. Jalan setiap individu adalah kodratnya, kebiasaannya, hukum perkembangannya.
Lirik dibawah ini merupakan keadaan yang membuat seseorang tidak bisa melupakan masalahnya, sehingga berusaha untuk mencari sumber dari kesedihannya selama ini. Kodrat untuk selalu berusaha tidak menyerah dalam mencari akar permasalahan adalah kebiasaan dari si pelaku.
Mengungkap benang peristiwa takdir ini
Tidak bisa lepas dari kesepian seumur hidup ini

3.    Lao Tzu ingin menanamkan sikap hidup manusia agar dapat berserah diri sepenuhnya
Melalui pemahaman cara hidup alamiah ini, Lao Tzu ingin menanamkan sikap hidup manusia agar dapat berserah diri sepenuhnya, sehingga tidak mudah mengeluh dalam mengatasi kesulitan hidupnya, karena harus disadari bahwa segala hal yang terjadi pengenalan jati diri diatur oleh hukum kodrat. 
Lirik “Pergi ke dalam pertempuran menghadapi luas dan agungnya langit dan bumi” menggambarkan sikap manusia yang berserah diri sepenuhnya pada kodratnya, sehingga tanpa mengeluh ia siap menghadapi segala apa yang terjadi dalam hidupnya.

4.    Prinsip Kewajaran dalam Taoisme
Prinsip kewajaran dalam Taoisme mengandung pengertian adanya ukuran normatif dalam cara hidup manusia sehari-hari, yakni manusia seharusnya tidak bertindak secara berlebihan. Manusia harus melepaskan sikap perilaku yang semu. Sebab, kepribadian sebagaimana yang terlihat dari luar itu tidak penting, yang penting adalah pengenalan jati diri. Jadi, pengertian hidup sewajarnya dapat diartikan sebagai proses pengenalan atau penemuan jati diri.
Hidup ini juga sepi. sangat menarik, seperti kobaran api menderu terbakar.
Pelaku menggambarkan kehidupannya dengan kata – kata yang mengandung kiasan, namun tidak berlebihan. Ia diceritakan sebagai seorang yang mengalami keterpurukan.


 
 Daftar Rujukan:

Widisuseno, Iriyanto. 2011. “Etika Natural Taoisme dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia”. Humanika, (online), Jilid 14 No.5, (http://ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/article/view/4006/3682, diunduh 4 Juni 2015)

Renn. 2014.张杰 - 剑心, (online), (http://onehallyu.com/topic/85421-jason-zhang-张杰-剑心-heart-of-the-sword/, diakses 4 Juni 2015)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar