A. Makna Lagu Jiàn xīn (Hati Pedang)
Jiàn
xīn merupakan satu dari beberapa lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Tiongkok,
Zhāngjié pada tahun 2014. Lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang mencoba
untuk tetap bertahan dari keterpurukan yang sedang ia alami. Berikut ini adalah
lirik lagunya:
Zhang Jie – Hati Pedang
Jiwa
berdebu yang terbaring diantara bintang-bintang, matahari dan bulan
Terbangun
oleh igauan mimpi buruk ketidakberdayaan.
Mengungkap
benang peristiwa takdir ini,
Tidak
bisa lepas dari kesepian seumur hidup ini.
Di
belakangku adalah kabut suram; di depanku adalah gunung menghadang.
Ingin
melarikan diripun tidak bisa.
Terlepas
dari bagaimana nasib mengatur, hati terus-menerus tidak akan berubah.
Tidak
peduli berapa banyak waktu berlalu dan berapa banyak perubahan dunia.
Mendengarkan
suara sedih dari guqin itu, tidak bisa melupakan apa yang harus dilupakan.
Dunia
mortal menjebak masa mudaku.
Maafkan
keegoisanku yang sudah jelas telah kusembunyikan dalam hatiku.
Pergi
ke dalam pertempuran menghadapi luas dan agungnya langit dan bumi.
Hidup
ini juga sepi. sangat menarik, seperti kobaran api menderu terbakar.
Masa
lalu yang dilalui penuh penderitaan/pasang surut.
Menggunakan
ujung pisau dingin dan kesendirian guqin ini, menulis peristiwa masa lalu dan
saat ini.
Pedang
tunggal dan ujung jari, berbicara dan tertawa.
Adakah
obat penawar antara hati nurani manusia
Yang
dapat meredam perebutan hak, kesalahan, balas budi dan dendam?
Pedang
fenji yang telah disarungkan
Tidak
akan dapat menggoyahkan hebatnya keteguhan seumur hidup ini.
B. Analsis Taoisme berdasarkan Lirik
Lagu
1.
Filsafat Taoisme yang Bersifat
Naturalistik
Pemikiran kefilsafatan Taoisme yang bersifat naturalsitk tidak
memusatkan perhatian pada
persoalan tentang keseluruhan struktur semesta alam. Substansi pemikiran
Taoisme berupa pemahaman prinsip hukum alam
yang dapat diorientasikan ke dalam ajaran etikanya, misalnya tentang keseimbangan kehidupan, kejujuran, ketulusan,
ketaatan, keadilan dan kesederhanaan.
Dalam lirik “Jiwa
berdebu yang terbaring diantara bintang-bintang, matahari dan bulan”
pada lagu tersebut menjelaskan kesadaran tentang posisi manusia yang sangat
kecil dibandingkan dengan alam semesta, sehingga kita harus memiliki sifat
sederhana dalam hidup ini.
2. Setiap manusia memiliki kodrat (pembawaan) alamiahnya sendiri
Taoisme berpandangan, bahwa
setiap manusia memiliki kodrat (pembawaan) alamiahnya sendiri. Untuk itu,
segala sesuatu mempunyai jalannya masing – masing. Jalan setiap individu adalah
kodratnya, kebiasaannya, hukum perkembangannya.
Lirik dibawah ini merupakan
keadaan yang membuat seseorang tidak bisa melupakan masalahnya, sehingga
berusaha untuk mencari sumber dari kesedihannya selama ini. Kodrat untuk selalu
berusaha tidak menyerah dalam mencari akar permasalahan adalah kebiasaan dari
si pelaku.
Mengungkap benang
peristiwa takdir ini
Tidak bisa lepas dari
kesepian seumur hidup ini
3. Lao Tzu ingin menanamkan sikap hidup manusia agar dapat berserah
diri sepenuhnya
Melalui pemahaman cara hidup
alamiah ini, Lao Tzu ingin menanamkan sikap hidup manusia agar dapat berserah
diri sepenuhnya, sehingga tidak mudah mengeluh dalam mengatasi kesulitan
hidupnya, karena harus disadari bahwa segala hal yang terjadi pengenalan jati
diri diatur oleh hukum kodrat.
Lirik
“Pergi ke dalam pertempuran menghadapi
luas dan agungnya langit dan bumi” menggambarkan sikap manusia yang
berserah diri sepenuhnya pada kodratnya, sehingga tanpa mengeluh ia siap
menghadapi segala apa yang terjadi dalam hidupnya.
4. Prinsip Kewajaran dalam Taoisme
Prinsip kewajaran dalam
Taoisme mengandung pengertian adanya ukuran normatif dalam cara hidup manusia
sehari-hari, yakni manusia seharusnya tidak bertindak secara berlebihan.
Manusia harus melepaskan sikap perilaku yang semu. Sebab, kepribadian
sebagaimana yang terlihat dari luar itu tidak penting, yang penting adalah
pengenalan jati diri. Jadi, pengertian hidup sewajarnya dapat diartikan sebagai
proses pengenalan atau penemuan jati diri.
Hidup ini juga sepi.
sangat menarik, seperti kobaran api menderu terbakar.
Pelaku menggambarkan
kehidupannya dengan kata – kata yang mengandung kiasan, namun tidak berlebihan.
Ia diceritakan sebagai seorang yang mengalami keterpurukan.
Daftar Rujukan:
Widisuseno, Iriyanto. 2011.
“Etika Natural Taoisme dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia”. Humanika, (online), Jilid 14 No.5, (http://ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/article/view/4006/3682,
diunduh 4 Juni 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar