A. Sejarah Candi Borobudur
Candi
Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di Indonesia yang terletak di
Magelang, Jawa Tengah. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha
Mahayana sekitar abad 8 Masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra.
Menurut
bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya
pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam.
Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh
Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal
Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya
penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975
hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs
bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
B. Periode Kehidupan dalam Buddhisme
Anggota
kalangan atas di India terutama kaum Brahmana, membagi masa kehidupannya
menjadi 4 periode yang berbeda. Periode pertama adalah periode brahmacarin atau masa belajar. Periode
ini dimulai ketika berusia 7 - 8 tahun dan berlangsung selama 12 tahun. Mereka
belajar tentang doktrin dan pengalaman Buddhisme. Selanjutnya adalah periode grihasta. Periode berlangsung selama 30
tahun dan sekaligus menjadi periode yang paling lama, dimana seseorang akan
menjalani kehidupan rumah tangga. Periode selanjutnya adalah vanaprastha. Periode ini dijalani dengan
masuk ke hutan untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan yang sudah dijalani.
Terakhir adalah periode sannyasin,
dimana seseorang akan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa uang
dan menggantungkan diri dari sedekah orang lain saja.
C. Bagian Bangunan Candi Borobudur
sebagai Lambang Periode Kehidupan
Bentuk
bangunan candi ini terbagi menjadi 3 bagian yang melambangkan sebuah tingkatan periode
kehidupan dalam Buddhisme.
1.
Kamadhatu
Kamadhatu
merupakan bagian paling luar, yang artinya susunan paling bawah di Candi
Borobudur. Kamadhatu melambangkan ranah dari hawa nafsu,
tempat bersemayamnya manusi awam.
Di candi Borobudur, kehidupan manusia mendapatkan tempat paling
bawah, karena kehidupan manusia mengandung hawa nafsu yang bertentangan dengan
Buddha. Tingkatan ini juga disebut brahmacarin
atau masa belajar. Secara simbolis mengandung arti tingkat manusia dalam usia anak –
anak, yang masih tergoda oleh kesenangan duniawi. Sehingga, mereka masih perlu
belajar banyak tentang doktrin dan pengalaman Buddhisme. Setelah menerima
banyak pelajaran, manusia tersebut akan masuk ke tingkatan grihasta, dimana kesenangan duniawi manusia dapat diandalkan
seperti kehidupan rumah tangga.
2.
Rupadhatu
Rupadhatu
merupakan tingkatan kedua dalam susunan Candi Borobudur. Rupadhatu lebih tinggi
daripada Kamadhatu. Tingkatan ini mengandung arti dunia yang sudah membebaskan
diri dari hawa nafsu, namun masih diikat oleh rupa dan bentuk. Rupa dan bentuk
berarti masih terikat dalam bentuk fisik manusia. Tingkatan ini juga disebut vanaprastha. Tingkatan ini dijalani
dengan masuk ke hutan untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan yang sudah
dijalani.
3.
Arupadhatu
Arupadhatu merupakan tingkatan
paling tinggi dengan luas paling kecil, melambangkan tempat berdiamnya para
dewa. Bagian Arupadhatu berbentuk lingkaran dan sama sekali tidak memiliki
hiasan atau relief di batu – batunya. Tingkatan ini juga disebut sannyasin, dimana manusia tidak lagi
mementingkan hawa nafsu. Dinding candi yang tidak memiliki relief melambangkan
kesucian dari sang Buddha, setelah mendapatkan kebahagiaan sejati.
Daftar Rujukan:
Koesbyanto,
J.A.D dan Yuwono, F.A. 1996. Pencerahan –
Suatu Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme. Yogyakarta: Kanisius.
Kids, Tian. 2013. Makna 3 Susunan Candi Borobudu, (online), (http://www.teruskan.com/7172/makna-3-susunan-candi-borobudur.html,
diakses 1 Juni 2015).
Wikipedia Indonesia. Borobudur,
(online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur,
diakses 1 Juni 2015)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar