Rabu, 23 September 2015

Analisis Buddhism pada Tingkatan Bangungan Candi Borobudur



A.      Sejarah Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di Indonesia yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar abad 8 Masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra.  
Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.

B.       Periode Kehidupan dalam Buddhisme
Anggota kalangan atas di India terutama kaum Brahmana, membagi masa kehidupannya menjadi 4 periode yang berbeda. Periode pertama adalah periode brahmacarin atau masa belajar. Periode ini dimulai ketika berusia 7 - 8 tahun dan berlangsung selama 12 tahun. Mereka belajar tentang doktrin dan pengalaman Buddhisme. Selanjutnya adalah periode grihasta. Periode berlangsung selama 30 tahun dan sekaligus menjadi periode yang paling lama, dimana seseorang akan menjalani kehidupan rumah tangga. Periode selanjutnya adalah vanaprastha. Periode ini dijalani dengan masuk ke hutan untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan yang sudah dijalani. Terakhir adalah periode sannyasin, dimana seseorang akan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa uang dan menggantungkan diri dari sedekah orang lain saja.

C.      Bagian Bangunan Candi Borobudur sebagai Lambang Periode Kehidupan
Bentuk bangunan candi ini terbagi menjadi 3 bagian yang melambangkan sebuah tingkatan periode kehidupan dalam Buddhisme.


1.    Kamadhatu
Kamadhatu merupakan bagian paling luar, yang artinya susunan paling bawah di Candi Borobudur. Kamadhatu melambangkan ranah dari hawa nafsu, tempat bersemayamnya manusi awam.
Di candi Borobudur, kehidupan manusia mendapatkan tempat paling bawah, karena kehidupan manusia mengandung hawa nafsu yang bertentangan dengan Buddha. Tingkatan ini juga disebut brahmacarin atau masa belajar. Secara simbolis mengandung arti tingkat manusia dalam usia anak – anak, yang masih tergoda oleh kesenangan duniawi. Sehingga, mereka masih perlu belajar banyak tentang doktrin dan pengalaman Buddhisme. Setelah menerima banyak pelajaran, manusia tersebut akan masuk ke tingkatan grihasta, dimana kesenangan duniawi manusia dapat diandalkan seperti kehidupan rumah tangga.



2.    Rupadhatu
Rupadhatu merupakan tingkatan kedua dalam susunan Candi Borobudur. Rupadhatu lebih tinggi daripada Kamadhatu. Tingkatan ini mengandung arti dunia yang sudah membebaskan diri dari hawa nafsu, namun masih diikat oleh rupa dan bentuk. Rupa dan bentuk berarti masih terikat dalam bentuk fisik manusia. Tingkatan ini juga disebut vanaprastha. Tingkatan ini dijalani dengan masuk ke hutan untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan yang sudah dijalani.

3.    Arupadhatu
Arupadhatu merupakan tingkatan paling tinggi dengan luas paling kecil, melambangkan tempat berdiamnya para dewa. Bagian Arupadhatu berbentuk lingkaran dan sama sekali tidak memiliki hiasan atau relief di batu – batunya. Tingkatan ini juga disebut sannyasin, dimana manusia tidak lagi mementingkan hawa nafsu. Dinding candi yang tidak memiliki relief melambangkan kesucian dari sang Buddha, setelah mendapatkan kebahagiaan sejati.

 

Daftar Rujukan:
Koesbyanto, J.A.D dan Yuwono, F.A. 1996. Pencerahan – Suatu Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme. Yogyakarta: Kanisius.
Kids, Tian. 2013. Makna 3 Susunan Candi Borobudu, (online), (http://www.teruskan.com/7172/makna-3-susunan-candi-borobudur.html, diakses 1 Juni 2015).
Wikipedia Indonesia. Borobudur, (online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur, diakses 1 Juni 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar