Rabu, 23 September 2015

Analisis Filsafat Zen pada Tokoh “Po” dalam Film Kungfu Panda 2




A.      Sinopsis Fim Kungfu Panda 2
Film animasi ini menceritakan tentang Po dan 5 Pendekar Naga dalam menyelamakan Cina dari ambisi Shen, seorang pangeran yang ingin menguasai daratan Cina. Namun pada kenyataannya, Po adalah pendekar muda yang masih perlu banyak latihan. Po telah berlatih berbagai teknik daan jurus kungfu, dan ia harus mencapai level keterampilan tertinggi, yaitu latihan mengendalikan diru untuk menemukan kedamaian jiwa.
Master Shifu mengajarkan kepada Po, bahwa salah satu level kemampuan tertinggi seorang master kungfu adalah saat ia bisa menemukan “kedamaian jiwa” (inner peace) dalam dirinya. Saat seseorang mampu menemukan kedamaian jiwa ini, maka ia bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Tidak ada lagi batas ataupun rintangan yang mampu menghalanginya.
Ketika Po melawan Shen, Po tidak bisa mengendalikan emosinya hingga terlempar ke sungai. Po terombang – ambing di aliran sungai, antara hidup dan mati. Justru di saat itulah, ia mulai bisa belajar di alam bawah sadarnya untuk bisa mengendalikan diri dan membersihkan jiwanya. Saat bertempur melawan Shen, ia selalu terbawa masa lalunya, dan dirinya dipenuhi dendam kepada orang tuanya, karena ia merasa bahwa orang tuanya membuang dirinya. Ia tidak tahu, bahwa orang tuanya begitu sayang kepadanya. Mereka menyembunyikannya di kotak sayuran justru untuk menyelamatkannya dari kejaran pasukan Shen yang akan memusnahkan mereka.
Dendam akan masa lalu itulah yang terus menghantui hidupnya. Perasaannya tidak pernah lepas dari dendam tersebut, dan selalu terbawa-bawa setiap ia akan bertempur atau melakukan aktivitas. Perasaan dendam akan masa lalu itulah yang akhirnya menjadi kelemahan dirinya, menghalanginya untuk mengembangkan potensi dirinya secara maksimal.
Po ditemukan oleh peramal kerajaan yang bijaksana di tepian hutan. Peramal itupun mengobati luka – luka Po, sekaligus menasehatinya untuk bisa keluar dari masa lalunya. Po mulai berlatih dengan alam untuk menemukan kedamaian dalam dirinya. Ia melatih pikiran dan perasaannya, membiarkannya mengalir bersama nafas dan gerakan tubuhnya. Dendam itu lama kelamaan mulai mengalir, perasaan sakit hati itupun luruh bersama penerimaan dirinya secara total terhadap alam dan kehidupan yang telah ia terima. Ia menjadi ikhlas dalam hidup, menemukan kembali kedamaian dalam dirinya. Ia belajar, bagaimana mengalirkan embun, menjadi sebuah lingkaran air yang tidak pecah ketika terjatuh, dan kemudian mengalirkannya di antara dedaunan. Ia belajar menyerap energi alam, dan mengendalikannya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Film ini berakhir dengan kemenangan Po, 5 Pendekar Naga, Master Shifu, dan 2 Pendekar Kungfu Legendaris setelah mengalahkan Shan dan pasukannya.

B.       Analisis Zen Tokoh “Po” dalam Film Kungfu Panda 2
A.  Ketenangan yang meningkat, tak peduli bagaimanapun besarnya gangguan emosi atau keraguan
Dalam menemukan sebuah kedamaian jiwa, diperlukan ketenangan agar dapat fokus pada tujuan. Ketenangan tersebut telah dilakukan oleh Master Shifu yang berusaha untuk mencapai kedamaian jiwa. Ia bertapa di gua yang jauh dari keramaian. Dengan kedamaian jiwa tersebut, ia berhasil mengendalikan embun, seperti dalam cuplikan berikut :
“Setiap master harus menemukan arahnya pada kedamaian jiwa. Beberapa memilih untuk bermeditasi selama lima puluh tahun di gua seperti ini, tanpa sedikitpun makanan dan minuman. Beberapa bisa melalui”. (Master Shifu, 05:14)
B.  Ada perasaan ringan yang timbul dari pelepasan beban diri dan keinginan
Ketika kita melepaskan suatu beban dan keinginan dari dalam diri, perasaan ringan akan tumbuh. Tidak akan ada beban yang menghalangi untuk tetap mencapai tujuan. Seperti Po yang mulai berlatih dengan alam untuk menemukan kedamaian dalam dirinya. Dendam itu lama kelamaan mulai mengalir, perasaan sakit hati itupun luruh bersama penerimaan dirinya secara total terhadap alam dan kehidupan yang telah ia terima. Ia menjadi ikhlas dalam hidup, menemukan kembali kedamaian dalam dirinya.
C.  Ada perasaan kembali, perasaan telah menemukan kembali kesederhanaan alami hidup yang bersemi dari penemuan kembali sebuah hakikat pikiran.
Setelah melepaskan beban dalam diri, ada perasaan telah menemukan kesederhanaan alami. Seperti ketika Shan mengalami kekalahan dan menyadari keburukan yang selama ini menguasai dirinya. Hal yang sama juga pernah dialami oleh Po ketika dendam masa lalu keluarganya membuat Po tidak bisa mengendalikan emosi.
“Kamu dapat meninggalkan tingkatan dari yang lalu, karena itu tidak masalah. Hal yang terpenting adalah apa yang kamu pilih sekarang.” (Po, 01:15:55)
D.  Segala tindakan dilakukan karena “benar” untuk dilakukan tanpa memandang akibat dan pamrihnya
Di akhir cerita, Shen mengakui kesalahannya. Namun dibalik itu, ia kembali ingin menyerang Po. Tiba – tiba, tiang kapal oleng dan akan jatuh tepat diatas Shen. Namun Po malah menyelamatkannya tanpa memikirkan balasan dari Shen.

Daftar Rujukan:
Tim Ekayana. 1996. Zen. Bandung: Ekayana

1 komentar: